Produk olahan daging satu ini memang bukan asli Indonesia, tetapi sudah populer menjadi hidangan makanan di Indonesia. Sosis awalnya dibuat dengan tujuan pengawetan pada daging oleh orang Sumaria (sekarang Irak) 300 SM, tetapi pertama kali dikenali dari dokumen Yunani yang ditulis sekitar tahun 500 SM, kemudian berkembang pesat di negara Eropa, terutama Jerman. Jerman menjadi negara kiblat dari sosis, karena sosis termasuk makanan utamannya dan ada lebih dari seribu varian sosis di Jerman. Makanan yang memiliki bentuk yang khas (bulat panjang, berwarna merah atau coklat) bahan dasarnya adalah daging hewan, umumnya sapi , tapi bisa juga dari daging ayam, domba,  ikan atau babi. Setelah diolah, daging-daging tersebut kemudian dibungkus dengan selongsong (pembungkus sosis) yang berasal dari usus sapi, kambing, domba, dan babi, dapat pula berupa bahan lain yang khusus dibuat sebagai selongsong, seperti sellulosa, kolagen, atau plastik buatan.

Sosis dan kebaikannya
Enak, praktis, lebih awet mungkin hal tersebut bisa menggambarkan kebaikan sosis dan menjadi alasan mengapa makanan ini banyak diminati. Selain itu, sosis juga mengandung zat gizi yang baik antara lain:
Protein: karena bahan utama pembuatnya adalah daging hewan, secara otomatis sosis mengandung protein yang berefek postif bagi kesehatan. Disamping berfungsi sebagai zat pembangun, protein merupakan alat angkut zat gizi untuk disalurkan ke jaringan-jaringan tubuh. Protein juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI 01-3820-1995), sosis yang baik harus mengandung protein minimal 13%, lemak maksimal 25% dan karbohidrat maksimal 8%. Jika standar ini terpenuhi, maka dapat dikatakan bahwa sosis merupakan makanan sumber protein.Vitamin B12: merupakan vitamin yang bersumber dari kelompok makanan yang berasal dari hewani. Vitamin ini tidak terdapat pada tumbuhan kecuali yang mengalami proses fermentasi seperti tempe atau sayuran yang telah mengalami pembusukan. Vitamin B12 berfungsi mengaktifkan bentuk folat serta diperlukan dalam fungsi normal semua metabolisme sel  sel-sel saluran cerna, sumsum tulang, dan jaringan syaraf.Zat Besi (Iron): mineral mikro yang paling banyak terdapat dalam tubuh manusia dan hewan. Zat besi terdapat pada bahan makanan hewani maupun nabati, tetapi zat besi yang terdapat pada sumber hewani (heme) mampu diserap tubuh lebih besar daripada bentuk zat besi yang berasal dari nabati (non-heme). Fungsi zat besi adalah sebagai alat angkut oksigen dalam bentuk hemoglobin, mampu meningkatkan kemampuan belajar, mencegah anemia.